Kunjungan Singkat yang Berkesan

Walau saya lahir dan besar di Jakarta, namun di tubuh saya mengalir deras darah Minang. Kedua orang tua saya orang Minang yang  lahir dan besar di daerah Bukittinggi. Bapak lahir di daerah Matua atau Matur. Sedangkan Ibu lahir di Cubadaklilin.

Jam Gadang menjadi ikon kota Bukittinggi.

Agar anak-anaknya tidak kehilangan akar asalnya, setiap ada kesempatan ibu selalu menceritakan mengenai adat Minangkabau, yang disampaikan dengan cara yang gampang diingat. Saya masih ingat ketika SD, ketika itu ada sebuah buku yang berisi nama dan alamat sanak saudara di perantauan. Dalam buku itu ada nama, alamat dan juga suku. Waktu itu saya hanya tahu, kalau di Indonesia cuma ada satu suku, yaitu suku Dayak.

Saya penasaran, dan menanyakan mengenai nama suku yang ada di dalam buku tersebut. Ibu menceritakan, bahwa suku di Minangkabau adalah suku yang diproleh dari garis keturunan ibu. Karena ibu saya bersuku Koto, maka saya pun memiliki suku Koto pula. Namun ketika saya punya anak, anak saya akan mengikuti suku ibunya.

Saya pun mengerti dengan apa yang dinamakan dengan suku tersebut.

Berkunjung ke Kampung Halaman

Beberapa kali, saya pernah pulang kampung. Ke kampung bapak dan ibu saya. Tahun 1997  saya ke Matua bersama bapak, dan tahun 2010, saya berkunjung kesana ketika mendapat tugas liputan di Padang. Di Matur udara sagat sejuk, dan ketika malam tiba udara pun menjadi dingin,sehingga sangat cocok untuk tidur.

Di rumah ini bapak saya pernah menghabiskan masa kecilnya. Udara disini sangat sejuk jadi cocok buat tidur, makan, tidur lagi. hehehehe....

Rumah bapak masih terawat dan masih berdiri tegak, karena ada salah satu sanak saudara yang menempati dan menjaganya. Sehingga ketika saya ke Matua, ada tempat yang bisa disinggahi. Namun berbeda dengan rumah-rumah lain disekitarnya, yang agak kuran terawat karena ditinggal merantau.

Dari rumah ini, berjalan sekitar satu kilometer, kita bisa melihat Danau Maninjau dari atas. Jika cuaca bagus, maka kita bisa melihat keindahan Danau Maninjau dari atas. Nama tempat untuk melihat Danau Maninjau ini adalah Ambun Pagi.

Pemandangan Danau Maninjau dari Ambun Pagi. Kalau cuaca sedang bagus, kita bisa melihat Danau Maninjau dari atas.

Namun sayang, saya tidak bisa berlama-lama di Matua karena harus kembali ke Padang untuk bertugas. Saya pun juga tidak sempat mengunjungi rumah dimana ibu saya dibesarkan di Cubadaklilin. Walau singkat, namun kunjungan itu begitu berkesan bagiku.

Saya berjanji, suatu saat nanti akan mengajak anak dan istriku ke bumi Minang, untuk melihat dari dekat keindahan dan keelokkan negeri Minang, dimana darah Minang mengalir deras di tubuhku.

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komentar

Ironi dari Bandung

Tahun 1995, Indonesia mencatat sejarah gemilang dalam dunia dirgantara. Pada tahun tersebut, beberapa hari  menjelang peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 50 tahun, pesawat buatan putra-putri bangsa Indonesia mengudara pertama kalinya selama 55 menit di seputaran langit Jawa Barat. Pesawat ini adalah karya orisinil putra puti bangsa Indonesia, yang teknologinya, bahan bakunya dan juga sumber daya manusianya dan dibuat Indonesia.Namun sayang, karena krisis

N250 terbang selama 55 menit pada 10 Agustus 1995

moneter yang melanda Indonesia tahun 1997, mengharuskan IPTN mengurungkan niat untuk memproduksi si Gatot Kaca, nama yang diberikan mantan presiden Soeharto kepada pesawat N250.

Ketika krisis ekonomi melanda Indonesia tahun 1997, Indonesia mendapat kucuran dana dari IMF. Soeharto yang ketika itu menjabat sebagai presiden menandatangani perjanjian dengan IMF yang mensyaratkan bahwa dana IMF tidak boleh digunakan untuk industri starteis, termasuk untuk membiayai PT DI. Dari perjanjian itulah, akhirnya PT DI mengalami gonjang ganjing sehingga harus melakukan PHK terhadap ribuan karyawannya. Mereka tidak dapat bekerja, karena tidak adanya dukungan untuk produksi pesawat, termasuk untuk memproduksi pesawat N250.

N250 Krincing Wesi harus berbagi tempat dengan dua pesawat rusak milik Bouraq Airlines

Kini si Gatot Kaca  harus mengalami nasib yang ironis. Ia tidak bisa terbang, karena tidak ada sertifikat kelayakan terbang. Tidak hanya Gatot Kaca yang tidak boleh terbang, N250 lainnya yang bernama Krincing Wesi pun tidak bisa terbang juga. Bahkan Krincing Wesi, harus berbagi tempat parkir dengan dua pesawat Bouraq Airlines yang sudah rusak dan tidak layak terbang.

Walau ironis tidak bisa memproduksi N250, namun PT DI masih bisa menghasilkan produksi pesawat CN235 yang telah mendunia. Ya, CN 235 adalah tipe pesawat yang dibuat bersama antara industri pesawat terbang Spanyol Cassa, dan PT DI, dimana beberapa bagian dari pesawat CN235 di hasilkan di Spanyol , dan sebagian lainnya dibuat di Indonesia.

CN235 Banyak dipesan oleh negara-negara di dunia. Sebagai penghasil, Indonesia kurang berminat dengan produk ini

Jika Indonesia ingin memproduksi CN235, maka beberapa bagian diambil dari Spanyol, begitu juga sebaliknya. Untuk memproduksi pesawat CN235, PT DI membutuhkan waktu selama 24 bulan, dan dikerjakan seluruhnya oleh putra-putri kebanggan Indonesia.

Pesawat CN 235 yang dihasilkan PT DI, menjadi andalan berbagai negara, karena bentuknya yang tidak terlalu lebar, dan dapat digunakan untuk kepentingan militer maupun sipil. Di Korea Selatan CN235 menjadi sarana pengangkut VIP dan juga menjadi pesawat patroli laut. Sedangkan bagi negara lain, pesawat ini jadi pesawat penghubung antara satu wilayah dengan wilayah lain.

CN235 milik Korea Coast Guard yang dipesan dari PT DI

Namun Indonesia sendiri seolah enggan menggunakan produk PT DI, dan lebih memilih produk pesawat negeri tirai bambu. Ini terbukti ketika Perusahaan penerbangan Merpati Nusantara lebih memilih pesawat buatan negeri Tirai Bambu tipe MA 60.

Sungguh ironis negeri ini, ketika ada industri pesawat yang telah mendunia, namun lebih memilih pesawat yang belum jelas kemampuannya, yang kemudian mengalami kecelakaan di Papua yang menewaskan seluruh penumpangnya. Ironis memang!

Walau gagal memproduksi pesawat N250, dan CN235 tidak dilirik di negeri sendiri, namun perusahaan yang dulu dipimpin BJ Habibie patut berbangga hati, karena PT DI kini menjadi pemasok tunggal salah satu komponen sayap airbus 380. Airbus 380, adalah jenis pesawat tipe terbaru Airbus yang jumlahnya masih terbatas.  Untuk memproduksi bagian Airbus A 380, putra-putri kebanggan bangsa ini bekerja dengan sungguh-sungguh. Luas PT DI yang mencapai 85 hektar di Jalan Parahyangan Bandung, dulu penuh dengan kegiatan produksi.

Komponen sayap Airbus A380 dipasok oleh PT DI yang menjadi pemasok tunggal komponen peswat Airbus A380

Jumlah pegawai yang pernah mencapai 16.000 pegawai, sekarang hanya berjumlah 4300 pegawai. Sementara yang lainnya harus diberhentikan. Diantara yang diberhentikan, ada yang berkiprah di luar negeri, di pabrik pesawat ternama seperti Boeing, Airbus, maupun maskapai penerbangan asing di berbagai belahan dunia.

Airbus mengandalkan PT DI untuk salah satu komponen pesawatnya

Sungguh ironis, mereka yang memiliki kemampuan untuk memajukan industri dirgantara Indonesia, harus hengkang dari negeri sendiri, karena tidak adanya lagi pekerjaan di tenpat yang dulu mereka banggakan.

Mereka yang masih bekerja masih terus bersemangat mengabdi pada bangsa ini di PT DI. Nama Indonesia yang melekat di produk yang mereka hasilkan, adalah penyemangat buat mereka untuk bekerja. Walau semangat, mereka  harus rela untuk menerima gaji degan cara di cicil, bahkan pula harus rela telat menerima gaji.

Karya anak bangsa yang telah melalangbuana ke berbagai negara di dunia

Sungguh sebuah pengabdian tulus dari anak bangsa, yang tidak ingin melihat bangsa ini hanya bisa menjadi bangsa penonton di kancah pergaulan dirgantara internasional.

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komentar

Dan Taufiq pun Menjadi Topik

This gallery contains 3 photos.

Mendengar nama Taufiq Ismail, tentu kita akan teringat dengan berbagai karya sastranya yang berbentuk puisi, atau juga lirik lagu. Sebut saja lagu “Panggung sandiwara” yang di nyayikan oleh Ahmad Albar, yang kurang lebihnya berisi tentang kehidupan di dunia ini ibarat … Continue reading

More Galleries | | Tinggalkan komentar