Jejak rekam seorang tokoh, apalagi ia adalah tokoh nasional sangat menarik untuk diikuti. Terlebih lagi apabila sang tokoh memiliki kontribusi yang sangat besar bagi negeri ini. Kebetulan sebagai seorang yang masih belajar, saya mendapat kesempatan untuk bertemu dan berbincang-bincang dengan Meuthia Hatta Swasono, putri proklamator Muhammad Hatta.
Kesempatan bertemu dan berbincang-bincang dengan beliau saya manfaatkan benar-benar. Saya bertanya mengenai peran Bung Hatta dalam pergerakan kemerdekaan hingga keseharian beliau.
Ringan Tangan
Dalam perbincangan yang dilakukan di rumah Bung Hatta di kawasan Menteng, Meuthia menceritakan kegiatan sang ayah sehari-hari. Meuthia menceritakan bagaimana sang ayah yang tidak segan-segan membantu pekerjaan yang lazim dilakukan oleh wanita, yaitu menyiapkan minum dan penganan kecil ketika kedatangan tamu.
Ketika itu Meuthia yang tengah mempersiapkan tugas akhir kuliahnya sedang menmgikuti ayahnya ke Hawaii, Amerika Serikat. Selama di Hawaii rumah yang ditempati Bung Hatta dan Meuthia selalu ramai dikunjungi oleh para mahasiswa yang sekolah disana.
Suatu saat Meuthia cukup kerepotan menyediakan minuman untuk tamu ayahnya. Rupanya sang ayah mengetahui kerepotan yang dialami anaknya dan langsung membantu meuthia mengantarkan minum untuk para tamu mudanya. Dan sontak saja paratamu itu terkejut dan rikuh ketika Bung Hatta menganatarkan sendiri minuman untuk para tamunya. Dan Bung Hatta sendiri ketika itu tidak merasa turun jabatan menjadi pelayan ketika harus mengantarkan minuman untuk para tamunya. 
Meuthia juga menyatakan bahwa, Bung Hatta adalah sosok yang peduli dengan mereka yang hidup dalam lingkup prasejahtera. Dalam perbincangan itu Meuthia menceritakan mengenai perjalan liburan mereka sekeluarga ke Megamendung Jawa Barat. Ketika itu rute menuju villa keluarga melalui jalan Raya Bogor dan sepanjang jalan banyak orang yang menjual buah-buahan. Dalam perjalanan Bung Hatta tampak iba terhadap seorang penjual buah yang sudah tua. Tanpa pikir panjang Bung Hatta memberhentikan mobil dan turun memborong dagangan si bapak tua tadi tanpa menawar harganya terlebih dahulu.
Sepatu Bally yang tak terbeli
Semasa hidupnya, Bung Hatta menurut Meuthia pernah berkeinginan untuk membeli sepatu Bally, sepatu kulit buatan Italia yang sangat terkenal. Bukan hanya terkenal karena merknya namun juga terkenal karena mutunya dan harganya yang mahal. Untuk mendapatkan septu tersebut rupanya bukan perkara mudah bagi mantan wakil presiden pertama RI ini. Bung Hatta menyisihkan pendapatannya dan di tabung untuk bisa membelinya.
Namun ketika uang tersebut hampir cukup untuk membeli, ada saja orang yang datang kepadanya untuk meminjam uangnya untuk keperluan keluarga. Selalu saja begitu uang yang
ditabung tidak pernah cukup untuk membeli sepatu Bally hingga akhir hayatnya.
Meuthia dan keluarga baru mengetahui keinginan sang ayah untuk membeli sepatu Bally ketika ia dan keluarganya merapihkan ruang baca Bung Hatta. Ketika merapihkan ruang baca, tidak sengaja ada sebuah kliping iklan saptu Bally yang terselip di salah satu buku yang sering dibaca Bung Hatta.
Secara logika sebagai mantan wakil presiden, beliau dapat menghubungi relasi atau duta besar yang berada di Italia untuk mengirimkan sepatu Bally sesuai ukuran. Namun hal ini tidak dilakukannya, karena menurut Meuthia iatu akan menyulitkan orang yang ada disana.
Berbeda prinsip dengan sahabat, namun tetap dekat
Sejarah mencatat, bahwa negeri ini Merdeka melalui proklamasi yang ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta. Namun sejarah juga mencatat bahwa dua sahabat yang menjadi pemimpin pertama negeri ini, pernah berbeda prinsip, sehingga Bung Hatta memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai wakil presiden RI.
Walau sudah tidak lagi sejalan, namun Bung Hatta dan Bung Karno teta[p bersahabat, walau hanya melalui bathin. Dikisahkan Meuthia, ketika Soekarno akan menikahkan anaknya yang bernama Guntur, Soekarno meminta Bung Hatta sebagai saksi pernikahan Guntur. Dan Bung Hatta ketika menyanggupinya. Terlihat jelas, prbedaan prinsip dalam berpolitik tidak menyababkan retak pula perhabatan. Ketika itu Bung Hatta hanya bertemu sebentar saja dan tidak sempat bercakap-cakap, karena setelah itu Bung Karno harus kembali karena dalam ” Pengawasan”Orde Ba
ru. Begitu pula ketika Bung Karno tengah mengalami sakit keras dan di rawat di Rumah Sakit Pusat Angakatan Darat Gatot Subroto. Mendengar sahabatnya sakit keras, Bung Hatta segera menghubungi sekertaris Militer Presiden Soeharto, untuk mendapat ijin untuk menjenguk sahabat seperjuangannya. Ketika itu Bung Karno tidak boleh di jenguk oleh siapapun oleh rezim orde baru setelah pweristiwa G 30 S / PKI.
Ijin dari Soeharto di peroleh Bung Hatta, dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Bung Hatta. Bung Hatta tidak lupa mengajak Meuthia untuk menjenguk Bung Karno. Meuthia menceritakan, ketika itu Bung Karno tampak begitu kemah. Ketika ia mengetahui kalau Bung Hatta menjenguknya, Bung KArno berusaha meraih tangan Hatta dan minta dipasagkan kacamata.
Menurut Meuthia Bung KArno sempat menanyakan kabar Bung Hatta dalam bahasa Belanda. Begitu juga dengan Bung Hatta yang menanyakan kabar Bung Karno. Menurut Meuthia, suasana haru sangat terasa di ruang perawatan di RSPAD ketika itu, dimana dua sahabat yang sama berjuang yang pernah berbeda prinsip bertemu dalam suasana yang berbeda, dimana yang satu menjadi pesakitan oleh rejim orba yang satu menjadi orang yang bebas.
Ketika Bung Karno meninggal pun, Hatta menurut Meuthia hanya terdiam saja, walau jelas tampak raut kesedihan di wajahnya namun hatinya merasa sangat seidh. 
Tidak terasa perbincangan saya dengan Meuthia Hatta Swasono berlangusng selama dua jam. Selama dua jam itu saya bisa menarik ilmu dari Bung Hatta, yaitu hidup sederhana, berbagi dan melupakan dendam. Sifat-sifat beliau ini masih relevan hingga saat ini, setidaknya oleh para politisi yang saat ini jauh dari sifat-sifat yang dimiliki para founding father. Semoga saja bangsa ini mendapatkan kembali figur-figur seperti Bung Hatta dan tokoh-tokoh nasional lainnya yang begitu berdedikasi bagi negeri ini.
